Title page

Sabtu, 05 Januari 2013

Bpk. Suryo Wikanthomo


Aku menyebutnya jejak dan sebuah resolusi

Tahun ini aku kembali. Menengok semua tulisan yang ada didalamnya. Mengulas kembali apa yang terjadi. Membayangkan cerita yang telah aku tulis. Pelajaran hidup di setiap langkah jejakku. Pelajaran yang tak pernah aku ambil layaknya dalam sebuah pendidikan pada umumnya. Seorang guru yang tak tampak namun terasa ketika ia menyentuhnya. Bukan karena aku memintanya. Tapi memang karena itu yang aku butuhkan.
Banyak sekali kejadian yang aku alami. Dari jatuh, bangkit, jatuh lagi dan mencoba bangkit kembali. Dari merasakan sebuah cinta dan ditinggalkan cinta. Merasakan kesendirian yang mengajarkan aku tentang rasa memiliki. Rasa yang seharusnya aku jaga. Rasa yang seharusnya aku bina untuk tetap memiliki. Belajar dari apa yang telah aku lakukan untuk mereka yang aku cintai. Ketika aku melakukan sesuatu yang tanpa aku sadari, yang sebenarnya itu membuat sisi lain yang sadar akan apa yang aku lakukan. 

Tapak demi tapak mencoba tegar. Hela nafas berulang kali dihembuskan dengan tarikan yang dalam. Mata yang tak henti terpejam lelap dalam hitungan detik. Mengulang jauh kenangan yang ada. Jantung berdetak dengan tidak teratur. Berdetak dengan biasanya lalu berubah cepat dengan seketika, dan kembali menjadi biasanya. Semuanya terjadi secara bersamaan. Larut menjadikannya nada harmonisasi. Nada yang memberikan dimensi lain. 

Aku sadar bahwa hidup itu sangatlah sulit. Entah dari sisi manapun yang aku lihat. Hidup itu harus dinikmati. Apapun rasanya, pahit maupun manis itulah hidup. Aku harus rasakan dan tetap mencoba bersyukur kepada Dia. Dia yang selalu aku sebut Sutradara Hebat, Allah SWT. 

Tahun ini, tahun 2013, aku sangat berharap menjadi lebih baik lagi. Pelajaran yang aku siap untuk menerimanya. Mental dan fisik yang kuat ketika aku dihajar dengan keadaan. Resolusi untuk menjadikan pelajaran 2012 menjadikannya sosok guru untuk menjadi lebih baik. Serta berharap menemukan sebuah cinta yang tak lelah untuk terus mencinta. 

Inilah aku, jejak dan sebuah resolusi.

@deharoom,050113,12:26

Minggu, 16 September 2012

Bunyi sunyi


Hingga saat ini gw semakin akrab dengan kebosanan. Kebosanan yang berasal dari sebuah realita yang ada. Kebosanan akan semua tindakan tanpa ada warna lagi. Tanpa semangat, tanpa adanya dramaturgi dalam hidup. Alur hidup gw terasa datar. Jalani aktifitas seperti biasa yang mungkin bias ditebak apa kegiatan selanjutnya. Padahal sebenarnya tidak bisa gw terka sama sekali apa sih akhir dari cerita ini. Seperti hari ini, hari Sabtu. Seharian hanya bergelut dengan keadaan kamar hanya untuk mendengarkan bunyi sunyi. 

Ya, bunyi sunyi…

@deharoom,160912,02:33

Sabtu, 10 Desember 2011

Janin bersama penatnya

Saatnya melepas penat aktifitas marionet. Ya, marionet, sebuah boneka yang diamainkan dari atas dengan sebuah tali. Semua sudah diatur oleh sang Pengatur. Disini Janin menambah kembali tempat pelabuhan, menyandarkan tali ketat kehidupan. Tali yang berjalan sesuai jalur dan batasan yang formal. Lurus terus dan butuh keberanian yang besar, tangguh untuk menentangnya. Seringkali pun tak lepas dari ketakutan akan sebuah keputusan.

Rabu, 16 November 2011

Biasakan Tak Terbiasa

Tiba saat langit terbelah dua, warna jingga pun memudar. Pecah ke seluruh penjuru bumi. Setiap manusia bertanya apa yang telah terjadi. Seorang anak kecil yang belum waktunya berfikir pun bergumam dengan polos, “I can’t believe it” about that. I think it will be fine”. Segerombolan burung terbang menerobos tebalnya awan menuju arah penasaran, berharap menemukan titik jawaban. Komunitas hutan berlari ketakutan ke titik arah rasa takut. Ekosistem dalam laut berantakan, saling bertanya, saling memberitahu, saling mencari tahu, yang sebenarnya sok tahu apa yang diketahuinya. Hanya sebuah pandangan hasil dari otak yang berputar. Pada dasarnya mereka sadar bahwa hal itu belum benar. Sebuah pemandangan yang luar biasa terjadi. Fatamorgana terlihat dari balik kejauhan. Bukan salah langit, bukan salah jingga, tetapi salah kami. Mereka sedang belajar dan dihajar. Berproses dari sebuah hal kebiasaan menjadi tak biasa, menjadi kebiasaan, menjadi tak biasa, dan menjadi suatu hal dipaksakan bahwa ini adalah kebiasaan yang biasa saja. Meski ada rasa menyelimuti proses tersebut. Terbelah bukan berarti kiamat, akhir kehidupan. Filsafat keyakinan mengajarkan akan ada kehidupan setelah kehidupan. Abadi. Disitu kita bisa mewujudkan yang belum terwujud di dunia.
Jalanilah…
Rasakanlah…
Nikmatilah…
Setiap manusia pada jalur karakternya, mempunyai hak membunuh.

Intuisi seseorang yang bercerita tentang keadaan yang terjadi. Tanpa sebatang rokok dan kopi layaknya seorang penulis.

Senin, 10 Oktober 2011

Dibalik Pekerjaan Menunggu

Kebanyakan dari setiap orang di dunia ini membenci yang namanya pekerjaan menunggu. Seseorang mengatakan kepada gw dengan langsung, “menunggu adalah hal yang membosankan, gw lebih baik ditunggu deh dari pada menunggu”. Dalam hati hanya berkata yah itu mah gak jauh beda. Kenapa loe membenci sesuatu tetapi loe yang menciptakan sendiri. Hal ini yang buat gw berfikir dan lumayan membuat 7 burung berputar di sekitar kepala gw. Jika semua orang berpegang teguh gak mau menunggu, ya gak usah membuat orang lain menunggu dirinya. Itu malahan menambah semakin banyak orang yang gak suka menunggu. Alhasil hal ini juga bisa timbul akibat pembalasan dendam akibat dibuat menunggu dengan seseorang. Paling gak mungkin mereka berpikir “rasain tuh emang enak nungguin orang…”.

Dan kalo gw pikir lebih dalam lagi, orang yang membenci menunggu pasti dia gak sadar kalo dirinya sedang menunggu sesuatu. Entah menunggu hasil ujian yang gak tahu hasil akhirnya lulus atau gak. Mmm.. atau yang lebih gak sadar lagi masa depan gw seperti apa ya? Siapa pendamping hidup gw yang sebenarnya? Itu pertanyaan yang sulit dijawab. Esok hari adalah esok hari, yang ditentukan langkah kita di hari ini.

Nikmatilah dalam proses menunggu sesuatu, hal yang kita nikmati akan sedikit tak terasa bahwa kita sedang menunggu sesuatu.

#belajar untuk tidak membuat orang lain menunggu kita. (sulit itu pasti, setidaknya lawanlah)

12.00 am @deharoom, 10 Oktober 11

Minggu, 31 Juli 2011

Apa kata Pengamat dari Jurnalteater's BLog

Pentas Teater Own: Satu Atap Satu Pijak Karya: Komunitas Bukit Duri, Sutradara: Dwi Hadianto Aswad

Apakah kalian Sang Pencipta yang berhak menentukan keyakinanku. Cerita tentang sebuah keyakinan atau aliran dari suatu keyakinan yang berbeda. Membuat tidak ada lagi kekhusukan dalam menjalankan suatu aliran dari suatu keyakinan. Kalau berbeda, berarti berseberangan, bermusuhan bahkan halal untuk dibunuh atau dumusnahkan.

Teater Own mengangkat kisah atau cerita yang memang sedang hangat bahkan ada kontekstualnya tentang suatu aliran dari suatu keyakinan. Sebagai suatu bahan untuk bersama-sama direnungkan dan direfleksikan – antara pertunjukan dengan para penontonnya.

Pementasan dari Teater Own lebih mengedapankan konfigurasi dan koreografis dari rangkaian adegan gruping yang menggambarkan massa sedang marah pada suatu aliran yang berbeda dari suatu keyakinan. Pemeranan dari para tokoh-tokohnya biasa saja belum maksimal secara greget dan memberikan kesan yang memukau bagi penontonnya.

Penyutradaraannya oleh Dwi Hadianto Aswad. Kurang cerdas dalam mengurai tematik yang diangkat dan diusung tentang perbedaan aliran keyakinan dari suatu keyakinan tertentu. Pertunjukan secara menyeluruh hanaya terasa sebagai suatu perenungan yang reflektif.