Title page

Minggu, 31 Juli 2011

Apa kata Pengamat dari Jurnalteater's BLog

Pentas Teater Own: Satu Atap Satu Pijak Karya: Komunitas Bukit Duri, Sutradara: Dwi Hadianto Aswad

Apakah kalian Sang Pencipta yang berhak menentukan keyakinanku. Cerita tentang sebuah keyakinan atau aliran dari suatu keyakinan yang berbeda. Membuat tidak ada lagi kekhusukan dalam menjalankan suatu aliran dari suatu keyakinan. Kalau berbeda, berarti berseberangan, bermusuhan bahkan halal untuk dibunuh atau dumusnahkan.

Teater Own mengangkat kisah atau cerita yang memang sedang hangat bahkan ada kontekstualnya tentang suatu aliran dari suatu keyakinan. Sebagai suatu bahan untuk bersama-sama direnungkan dan direfleksikan – antara pertunjukan dengan para penontonnya.

Pementasan dari Teater Own lebih mengedapankan konfigurasi dan koreografis dari rangkaian adegan gruping yang menggambarkan massa sedang marah pada suatu aliran yang berbeda dari suatu keyakinan. Pemeranan dari para tokoh-tokohnya biasa saja belum maksimal secara greget dan memberikan kesan yang memukau bagi penontonnya.

Penyutradaraannya oleh Dwi Hadianto Aswad. Kurang cerdas dalam mengurai tematik yang diangkat dan diusung tentang perbedaan aliran keyakinan dari suatu keyakinan tertentu. Pertunjukan secara menyeluruh hanaya terasa sebagai suatu perenungan yang reflektif.

Jumat, 01 Juli 2011

Pentingkah Sebuah Kerisauan Tentang Perbedaan

Kita sama-sama manusia
Terlahir dalam indah dunia
Mengapa kita saling mencerca
Mengapa kita saling menghina
Perbedaan selalu ada
Jika kita tak merisaunya
Hidup damai yang akan kau rasa

Barat timur selatan utara
Kesombonganmu tak akan guna
Semua sama dihadapanNya
Semua kan kembali padaNya
Perbedaan selalu ada
Jika kita tak merisaunya
Hidup damai yang akan kau rasa

Mulailah hari ini tuk tersenyum semua
Kepada setiap makhluk-makhluk ciptanNya
Hingga tiada lagi kita merasa duka
Karna kita hidup
Satu atap satu pijak

Sabtu, 25 Juni 2011

S.A.S.P.


Pencarian jati diri seorang anak yang bernama Ahmad. Ia terlahir di tengah keluarga yang sederhana. Ahmad senang bermain bersama teman-temannya, bercanda menghabiskan waktu hingga waktu berubah menjadi gelap.
Namun masa bermain Ahmad tidak berlangsung lama. Kini ia dimusuhi oleh teman-temannya. Ia dijauhi dan dibiarkan untuk bermain sendiri. Tidak lagi merasakan tawa canda yang seperti biasanya. Hingga jawaban muncul sebelum pertanyaan tersampaikan.
Sepeninggal kedua orangtuanya membuat Ahmad hilang arah. Pertemuannya dengan seniman patung memberikan sebuah pemikiran.
Sebuah keyakinan yang berbeda membuat ia tidak lagi merasakan apa yang harusnya ia rasakan. Sebuah keyakinan yang seharusnya dimiliki setiap manusia dihadapan Tuhan, kini ditentukan oleh manusia yang lain.

“Apakah kalian Tuhan yang berhak menentukan keyakinanku?”

Sabtu, 08 Januari 2011

Langit Merenung

Sudah lama aku tidak berpijak disana
Merasakan yang tidak seperti biasa
Merasakan apa yang mereka rasakan
Kembali ke titik normal
Kembali ke titik dimana orang-orang selalu bilang aku diatas normal
Tidak bisa membedakan kesegaran dan kehausan
Waktu selalu diatas langit aku habiskan
Sementara di bumi
Waktuku untuk beristirahat

Aku menyesal?
Tidak adalah satu jawaban diantara satu jawaban lainnya
Yang tadinya hanya mempunyai plastik untuk menampungnya
Kini aku membeli gayung, ember sampai harus beli bak bulat besar
Bukan karena gak cukup
Tapi karena memang aku selalu yang ingin menambahnya
Aku yakin itu berguna buatku mungkin berguna buat kamu
Iya mungkin…

Ada yang bilang milikku tidak jernih, bau dan tidak berwarna
Ini bisa merusak pencernaan
Bisa membuat mereka sakit
Namun aku tetap saja ingin memberi
Pikirku daripada…

Senin, 29 November 2010

Tikus gak bisa bergerak

Gila waktu udah berjalan cepat, sedangkan gw masih belum bisa mengarahkan tikus itu. Pas otak gw udah sukses berpikir keras buat pegang, ternyata giliran tangan gw yang gak sanggup bergerak. Arggh.. ada apaan sih nih. Gw bagaikan marionet dari atas sana. Matanya masih kedap-kedip seolah berkata, “ayo arahkan aku jika kamu sudah siap”. Dalam hati gw timpalin, “Anjrit dari kemarin gw udah niat, tapi emang bener sih gw belum siap”. Jeng jeng…. Gw menegaskan pernyataan tikus itu, sial gw ada di blok dia.

Tik.. tak.. tik.. tak…

Kukuruyuk…
Teng … 12 x

Buka mata, masih ada belek yang setia di pojok mata, upil dari kumpulan debu. Gw langsung berdiri di depan cermin (bukan kaca, soalnya gak mantul). Mencari apa sebabnya.

Damn…
Ternyata gw tahu hambatannya.

Bergegas gw mandi ambil handuk, sikat gigi, sabunan, siram air, selesai langsung didepannya.

Sangat Damn….
Gw masih gak bisa mengarahkannya meski gw tahu penyebabnya.

Sabtu, 27 November 2010

Pesannya

Menemukan warna baru dalam hidupmu selain Jingga.
Diatas Langit masih ada Langit.
Cerita Langit Jingga akan tetap ada buat aku.
Hingga akan aku namai putri kecilku, Jingga.
Akan kusayangi dia setinggi Langit.

Sabtu, 20 November 2010

Persimpangan The Rain

Kini tiba saatnya untuk merenungkan
Apa ini yang memang kita inginkan
Saatnya untuk mencari di segenap penjuru hati
Apa kita mau menerima yang kita punya
Apa adanya

Sanggupkah kita saling meredam
Ataukah hanya saling bertahan
Sanggupkah kita saling memaafkan
Ataukah hanya saling menyalahkan

Akhirnya kita temukan pahitnya persimpangan
Dan harus tetapkan arah tujuan
Terpenjara oleh ego yang semakin tinggi menjulang
Saat harga diri seolah segalanya
Mahal harganya